Wednesday, June 18, 2014

Syair Pujangga

Selalu, setiap saat aku menutup mata, dia selalu muncul dalam benakku. Perempuan yang selalu tersenyum dalam segala gelisah yang tersaru. Saat ini dia hadir dan menyapaku dalam sunyi ruang hatiku. Sunyi ditengah gemeretak papan kunci komputer.

Seperti biasa dia berdiri disana dengan senyum miliknya sambil memanggil namaku. Sesekali dia duduk disampingku, memperhatikan aku bekerja, terkadang sambil menyandarkan kepalanya di pundakku Selalu, dia ada dalam kesunyian aku.

Aku tahu dia juga berasal dari kesunyian yang sama. Dalam rentang waktu yang berbeda, aku dan dia terhempas dalam kesunyian di tengah hiruk pikuk, senda gurau dan canda tawa. Dalam kesunyianku, aku terhiruk pikuk, tersenda gurau dan tercanda tawa dalam alur kesunyiannya.

Dalam kesunyian tengah malam, aku tebarkan doa ke langit sang Pujangga. Agar segala keinginan yang berlabuh di sana, segera tersyair indah menuruni angkasa. Menuju sekat-sekat kesunyian dalam hatinya.


Pagi ini ketika tahun berulang. Ku hembuskan bersama angin ucapan kebahagian. Untuk membelai telinganya dan menyampaikan kehangatan hatiku hanya untuknya seorang.



Selamat ulang tahun kesayanganku - dari Lelaki Tampanmu

Friday, May 30, 2014

ENGLISH CAT GOT MY TONGUE

I bet you have your own speechless moment. It is a moment when you are not able to deliver any single word out of your mouth. It could be a joyful moment or a miserable moment that really holds your words. Whatever the moment is, you would leave your mouth half opened and your eyes bugged out when you find yourself stand on a speechless moment.

In 1995, Manchester United striker Eric Cantona sent me and perhaps most of Manchester United supporters into an unforgetable speechless moment. It was in 56 minutes of a game against Crystal Palace. It was not the red card that was given to him that created a speechless moment to me but a minute after that. Cantona had been red carded and he was walking himself into dressing room. On his way into dressing room, the Crystal Palace supporter yelled something at him that really made him furious. Spontaneously, Cantona ran to the supporters and flicked a kung fu kick at him. That kung fu kick did make me stand in my speecless moment.

It was not a joyful moment but it did make my mouth half opened and my eyes bugged out. Cantona had been sentenced for that. He was suspended for four months by the FA and 120 hours of community service by the court.



In 1999, Ole Gunnar Soksjaer and Teddy Sheringham knocked my jaw down half open following their action in final match of Champion Cup against Bayern Muenchen. It was at 90 minutes of the game and it seemed that it would be Bayern Muenchen night to lift up the silverware. However, from a corner kick, the ball fell on to Ryan Giggs foot and then he shot the ball. The ball reached Teddy Sheringham and he put it behind the net of Oliver Kahn. He changed the score to equal.

In the injury time, from another corner kick, David Beckham sent the ball high on to Teddy Sheringham and he headed the ball. The ball fell on to Ole Gunnar Solksjaer and he finished it with a winning goal. Manchester United won the game in the last three minutes after one goal down from Bayern Munich. It was almost at 4 o'clock in the morning, Jakarta time. The game was over but I could not close my bugged out eyes. That was the most silent speechless moment I have ever had.



You may feel joyful or miserable on your speechless moment. Whatever you feel when your speechless moment comes, you would feel your world in a slow motion. You may smile or you may cry, but the truth is that moment would linger until the rest of your life.

When you have a speechless moment, it means a cat got your tongue. An English cat has got my tongue. So, I have to come to England to have my tongue back.







ALL MY LOVING

Bulan September selalu melambungkan ingatanku pada seorang lelaki yang selalu menjagaku. Puluhan kisah dengannya seperti berloncatan di depan mataku setiap kali aku memejamkan mata. Bagai lorong waktu yang membawaku terhisap kembali pada masa-masa lalu bersamanya.
Berada diriku di kamarnya, selalu terdendang lagu itu di telinga. Pejamkan matamu ketika aku menciummu, esok aku akan merindukanmu, maka ingatlah selalu bahwa aku akan selalu ada untukmu. Seperti lagu yang mendendang, tidak segera aku tahu maknanya, sampai aku beranjak remaja, sampai aku kehilangannya dan ketika waktuku tidak lagi berisi tentangnya.

Dahulu, aku selalu menemaninya menonton sepakbola di televisi, walau aku tidak sepenuhnya paham permainan itu. Sampai akhirnya, aku kejutkan dia dengan memintanya untuk membelikan bola sepak plastik untukku. Bola sepak plastik itu memang tidak pernah benar-benar aku mainkan. Aku hanya ingin merasakan bola sepak seperti yang sering aku lihat di televisi ketika aku menemaninya menonton pertandingan sepakbola. Aku tidak pernah tahu klub sepakbola yang dia suka. Aku hanya ingin menonton dia menyaksikan pertandingan sepakbola.

Dia adalah seluruh cintaku. Seluruh cintaku yang akan selalu aku kirimkan padanya. Seperti itu dia selalu berdendang. Bukan lewat suaranya yang tidak merdu, tapi lewat seluruh getaran tubuhnya. Disaksikan oleh seluruh peluh yang mengalir ketika aku menunggunya di teras rumah. Diiringi oleh wangi harum tubuhnya ketika dia mencariku sebelum diriku meluruh dalam pelukannya.

Melepaskan rinduku padanya, selalu aku hadapkan diriku pada televisi yang mengajakku ke lapangan sepak bola. Aku tidak akan melewatkan setiap klub yang berseragam merah, walau aku tidak pernah tahu klub berseragam merah yang mana yang selalu memakunya di hadapan televisi.

Aku baru menyadari ketika aku dengar lagu itu di radio. Lagu dari sebuah band legendaris asal Liverpool yang membuat tubuhku melayang menuju ke masa-masa indah bersamanya. Lagu yang memberi penawar dahaga atas kegundahanku. Lagu ini yang selalu didendangkannya melalui seluruh getaran tubuhnya. Lagu ini yang selalu mengirimkan cintanya padaku karena keyakinannya untuk selalu ada untukku.

Liverpool, aku harus ke Inggris untuknya, aku harus saksikan langsung pelantun lagu yang selalu menggetar hatiku walau hanya dalam museum kenangan. Museum kenangan itu yang selalu membuat pahlawanku berkunjung dalam getar hatiku dari peristirahatannya yang abadi. Membuatku paham akan cintanya yang semerah klub sepakbola favoritnya.


The Reds, Papa dan The Beatles. Ketika aku tiada, aku akan kirimkan ucapan ke rumah setiap hari, dan aku akan sertakan seluruh cintaku untukmu - And then while I’m away, I’ll write home everyday, and I’ll send all my loving to you.








Saturday, May 10, 2014

THE GREAT DANE

Kampung Ambon, Jakarta, 1996

Boni terhenyak seketika, tubuhnya seperti melayang tinggi ke angkasa lalu terhempas keras ke kasur tempat tidurnya. Gegap gempita sebuah stadion segera sirna, berganti dengan keringat membulir di keningnya. Boni terduduk diam, dia mencoba mengingat lagi apa yang terjadi di stadion itu. Riuh rendah sorak sorai masih membahana di pikiran, tapi tembok kusam kamarnya mampu memudarkan imajinasi itu dan menenggelamkannya bersama alunan suara sang raja dangdut yang berjudi dalam samar pendengarannya.

Boni Wiryawan adalah seorang penyerang handal yang gigih di kotak penalti lawan. Dia bukan seorang penyerang serba bisa yang sesekali bisa memberikan umpan matang di depan gawang. Dia seperti elang yang menyendiri di depan untuk selalu siap berkelebat menyambar umpan di depan gawang lawan.

Lagu sang raja dangdut samar berganti, kali ini mengalunkan nama gadis si Ani. Boni menatap jam dinding di kamar. Satu panah merah mengarah ke angka empat. Dia berpaling seketika ke salah satu sudut kamar sempit yang menatap ke arahnya. Tepat pada bola plastik di bawah poster yang tergantung, dia meraihkan tangan.

Seketika Boni berpindah tempat ke lapangan tanah merah yang menengahi padatnya pemukiman. Tanah merah itu segera membalur telapak kakinya, berpendar-pendar dalam hentakan kaki untuk menjaga bola plastik itu agar tetap menghentak seirama. Menggiring, meliuk, berputar lantas menendang ke gawang berbataskan batu di  kiri dan kanan.

"Scooby doo adalah jenis anjing yang terkenal di Inggris, dia dikenal dengan nama The Great Dane."

Hentakan kakinya terhenti. Seketika bola plastik dalam pandangannya terhempas dan berganti dengan wajah seorang gadis berkacamata. Gadis itu menatap ke arah kaus yang dipakai Boni.


Gadis itu duduk di atas sepeda motor roda tiga. Di bagian belakang motor itu terdapat buku-buku yang tertata rapi dalam sebuah boks rak buku. Dia mengambil sebuah buku dari rak itu dan menunjukkannya kepada Boni.

Dia Nita Adayu, petugas  perpustakaan keliling. Berkeliling kampung menggairahkan minat baca anak-anak dengan sepeda motor roda tiga. Setiap hari, bersama senyum manisnya.

"Ini anjing yang ada di kausmu."

Boni menatap buku itu. Dia mengalirkan matanya ke kumpulan huruf di dalamnya. Dari ujung kiri ke ujung kanan sambil sesekali memperhatikan gambar dalam buku itu.


"Anjing ini sangat besar, tinggi dari cakar ke lehernya bisa mencapai 112 cm."

Mata Boni membesar dalam kagum dan kejut mendengar hal itu.

"Ya, dan Denmark adalah negara tempat anjing ini berawal."

Boni terdiam, dia seperti teringat sesuatu. Sepuluh detik kemudian dia berlari ke kamar, meletakkan bola plastiknya di salah satu sudut kamar. Dia memundurkan satu langkah kakinya ke belakang untuk dapat menatap ke poster di atas bola plastiknya itu. Seorang lelaki besar, 191cm,  berambut pirang, berseragam hijau muda.

"Aku harus ke Inggris nanti, untuk bertemu dengan dia dan melesakkan bola ke gawang dia."

Tulisan di poster itu seketika membesar memenuhi kilatan mata Boni.

PETER SCHMEICHEL, MANCHESTER UNITED, THE GREAT DANE.




11 May 2014-Haryo Sutanto


Monday, October 21, 2013

Jemput Aku di Saidah



Aku melihat ceria di wajahnya sedikit tersamar dengan semburat lelah. Lelah dengan aktivitas baru mengarungi lalulintas ibukota menuju ke sebuah tempat kerja. Kemerdekaan atas segala aktivitas kuliah seperti seketika terenggut dengan keterikatan waktu dan tanggung jawab atas sebuah aktivitas baru. Dia tidak kuasa menolak, ini seperti terbentang di depan hidupnya dan hidup harus terus berjalan.

Tapi aku tahu dia bahagia karena dia telah menyelesaikan kuliah dengan baik, dan kebahagian itu menjadi energi dalam mengarungi aktivitas barunya. Sejumlah harapan baru dia gantungkan menggantikan yang lama yang telah tercapaikan. Aku melihat semangatnya menyala sepanjang waktu, walau sesekali meredup dalam ragu.      

Matahari belum tinggi ketika aku melajukan sepeda motorku untuk menjemput dia. Dia tampak berbeda dalam balutan busana formal. Hari ini dia harus menghadiri pelatihan kerja di sebuah gedung di tengah kota. Aku tahu ada sedikit ragu dalam nyala semangatnya pagi itu. Aku temani dia sejenak  untuk melarutkan keraguannya.

Aku harus tinggalkan dia di sana untuk mengarungi ruang kerja ku. Aku akan menantikannya lagi ketika mentari telah mulai meredup nanti. Aku dapat melihat kesibukannya memperhatikan pelatihan pada hari itu dari ruang pikiranku. Siang hari dia sambut dengan lasagna dan sebotol air mineral, sore hari dia jelang dengan roti dan secangkir kopi. Jamuan makan itu sanggup mengangkat separuh letihnya pada hari itu.

Mentari telah tergelincir memerahkan senja ketika aku meninggalkan ruang kerja ku untuk menantinya. Aku melihatnya datang ke arah ku dari kejauhan. Letih wajahnya sedikit menyemburat karena perjalanan panjang yang dia lalui. Masih ada lagi esok hari yang akan menjadi hari-hari panjangnya dan aku akan selalu melarutkan keraguannya.

Seperti hari ini, ketika senja telah memerah aku menunggu kedatangannya. Aku tidak menjemput dia di tengah kota, aku menjemput dia di Saidah

Monday, October 14, 2013

PANGGUNG HIJAU DI TENGAH KOTA

 Tempat ini seperti sebuah panggung besar baginya. Di bawah rerimbunan pepohonan, diatas hamparan rerumputan, dia mempersiapkan diri. Dia berdiri dari singgasana batu, mengusap janggut putih panjangnya sambil menggenggam sebuah buku bersampul hitam. Dalam kacamata bulatnya, dia menerawang jauh mengamati pengunjung yang mulai berdatangan. Diatas hamparan rerumputan, dia memantapkan langkah menuju panggung besarnya.

Dia berhenti tepat di tengah diantara dua kolam air yang memancar. Sejenak dia mengedarkan pandangan ke arah patung-patung penghias panggungnya yang selalu menyaksikan setiap penampilannya. Angin berhembus perlahan, menggesek dedaunan, burung-burung sudah terlelap di rumah peraduan mereka.

Dia, dengan janggut putih dan rambut panjang yang telah menipis, membuka buku bersampul hitam yang sejak tadi tergenggam di tangannya. Kakinya melangkah tegas mendekat ke arah pengunjung, dia lantas menyapa dan memulai penampilannya. Untaian kata puitis berirama menyeruak diantara suara seraknya dan suara gemericik air yang memancar. Di panggung besarnya itu, dia terus bergerak menyapa pengunjung, satu persatu, untuk mengumandangkan untaian kata puitis berirama.

Hijau rerimbunan pepohonan dan hamparan rerumputan menjadi saksi bagaimana dia memaknai penghargaan para pengunjung atas untaian kata puitis berirama yang dia kumandangkan malam itu. Diiringi suara gemericik air, kebisuan patung penghias panggung, dan keheningan rumah peraduan burung-burung, dia meninggalkan panggung besarnya. Melangkahkan kakinya menjauh untuk menukarkan penghargaan dari pengunjung dengan sebuah kenikmatan dahaga ragawi sebelum kantuk melelapkannya. 

Panggung besarnya akan selalu berada di sana dengan hijau rerimbunan pepohonan dan rerumputan terhampar, diiringi gemericik air yang memancar dalam kebisuan patung-patung penghias yang akan selalu menantikan kedatangannya.


Wednesday, April 3, 2013

Boyband: Penanda Jaman


Setiap jaman selalu ditandai dengan boy band dan setiap orang yang pernah remaja pasti memiliki boyband nya. Boyband adalah penanda jaman, kalau Anda tahu The Osmond dan Menudo, Anda pasti sudah remaja di tahun 70an dan 80an. Kalau Anda tahu SM*SH dan 7Icons, jaman Anda baru saja ditandai.

Nah, siapakah boyband penanda jaman Anda? Jangan pernah berpikir tentang Jackson Five, karena mereka memainkan instrumen musik

Tahun 50an, The Osmond
Kalau Anda tahu Boyband ini, wow, Anda pasti seorang warga senior

The Osmond








Tahun 70an, Menudo
Boyband ini mengorbitkan Ricky Martin, lelaki bercelana ketat mengkilap ketiga dari kiri di foto di bawah, menjadi seorang solois, The Cup of Live

Ricky Martin

Menudo










Tahun 80an, New Kids on the Block
NKOTB adalah pengantar ledakan Boyband di pertengahan 80an sampai awal 90an. Boyband ini mengorbitkan Donnie Wahlberg dan Joe McIntyre menjadi solois. Donnie Wahlberg selanjutnya menjadi aktor.
NKOTB

Donnie Wahlberg
Joe McIntyre
Pertengahan 80an, Color Me Badd, Boyz II MenBell Biv Devo
Berturut-turut, 1987 hadir Color Me Badd, 1988 Boyz II Men dan 1989 Bell Biv Devoe. Tiga Boyband ini menerima penghargaan musik bergantian sampai pertengahan 90an


Boyz II Men
Bell Biv Devoe
Color Me Badd







Tahun 90an, Take That, Boyzone  All4One, dan West Life

Tahun 1990, Take That menghiasi dunia Boyband. Madonna yang memberi nama Boyband ini. Boyband ini mengorbitkan Robbie Williams, Gary Barlow dan Mark Owen sebagai solois.


Take That










Boyzone dan All4One muncul di tahun 1993 berbarengan


Boyzone
All4One


West life menutup tahun 90an dengan hadir di tahun 1998

West Life
Tahun 2000an, Backstreet Boys, N'Sync, 98 Degrees
Hampir berbarengan muncul, tiga boyband ini muncul sebagai yang terpopuler pada masa itu. Setelah masa ini seperti ada jeda tentang boyband, mungkin karena MTV pada masa ini juga membuat kampanye NO BOYBAND

Backstreet Boys
98 Degree
N'Sync
No Boy Band


Tahun 2011, Sm*sh
Arah gelombang boyband di tahun 2011 berasal dari Korea bukan Eropa atau Amerika, contohnya ya Sm*sh ini. Tapi jangan pernah berpikir bahwa Sm*sh adalah boyband pertama Indonesia, apakah Anda sudah lupa dengan Masnait, Trio Libels, Co Boy, Male voice?

Sm*sh
Masnait

Trio Libels

Male Voice
Coboy














Nah, Anda ada di ruang waktu Boyband apakah?